Prahara Patung


Metode terbaik untuk melacak serta mencari akar dari permasalahan adalah dengan bertanya. Mengapa terjadi perobohan patung di Purwakarta? Apa makna dari patung-patung yang telah dirobohkan? Mengapa patung-patung tersebut begitu dibenci? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang patut diajukan sebagai langkah awal untuk memahami kompleksitas kejadian di Purwakarta. Dari pertanyaan-pertanyaan ini kita mencoba menelaah secara jernih bagaimana hendaknya menyikapi persoalan ini.

Rupanya patung dalam konteks perobohan ini tidak sekedar dianggap patung sebagai suatu hasil karya seni. Lebih jauh lagi, massa yang bersikeras menurunkan patung-patung tersebut menganggap bahwa patung tersebut menodai kepercayaan mereka. Patung Bima, Semar, Nakula, Sahadewa, serta Gatot Kaca tersebut menjadi simbol ajaran yang terlarang dari kelompok ekstremis tersebut. Patung-patung tersebut dianggap dapat menyebabkan ‘syirik’ karena mewakili kebudayaan pagan.

Ada beberapa poin penting yang patut direnungkan, bahwa tindakan yang terjadi di Purwakarta tersebut sesungguhnya berkaitan tentang mempertahankan suatu ajaran agama, dimana konsep ajaran agama yang diterapkan oleh kaum ekstremis ini menegaskan secara sempit makna dari identitas. Mengapa identitas? Kelompok garis keras yang telah menjatuhkan patung-patung tersebut, memandang bahwa identitasnya terancam ketika patung-patung tersebut masih berdiri. Mereka merasa bahwa kepentingan kelompoknya harus ditegakkan meskipun aksi tersebut melanggar peraturan ketertiban umum.

Ada beberapa problem fundamental dari terjadinya aksi massa yang vandalis ini, selain aksi tersebut meresahkan, hal lain yang patut dikhawatirkan adalah aksi lanjutan yang dapat memperburuk  situasi bermasyarakat di Purwakarta secara khusus dan Indonesia secara umum. Kejadian tersebut muncul sebagai preseden buruk dimana kontrak sosial rakyat Indonesia yang berjanji taat dan hormat pada keberagaman dibenturkan dengan ideologis ekstremis yang berbasiskan agama. Tentunya kejadian ini menjadi salah satu ujian penting serta bagian perjuangan panjang bagaimana masyarakat Indonesia merawat toleransi serta belajar untuk menerima kemajemukan.

Menyoal Identitas

Amartya Sen seorang etikus kontemporer mencoba menggali arti dari kata identitas, apakah identitas tersebut, dan mengapa ia rentan jatuh menjadi kekerasan, “A sense of identity can be a source not merely of pride and joy, but also of strength and confidence.” Identitas seseorang dianggap sebagai sumber loyalitas dan kebanggaan seseorang. Kemudian Sen melanjutkan dengan berkata, “And yet identity can also kill-and kill with abandon.” Serupa dengan apa yang dikhawatirkan oleh Appiah, mengapa identitas menggerogoti sakralitas dari HAM? Begitu juga dengan Kwamme Appiah yang mengambil contoh fundamentalisme beragama, yang meyakini bahwa identitas dan prinsip-prinsip ideologinya adalah benar secara universal.

Baik Sen dan Appiah menyepakati bahwa kekerasan ini dapat terjadi karena kelompok tersebut meniscayakan identitasnya sebagai sesuatu yang fondasional dan final. Ide yang ditawarkan Appiah untuk melawan fundamentalisme identitas tersebut adalah modus hidup kosmopolit. Sesungguhnya konsep ‘Cosmopolitanism’ bukanlah sesuatu hal yang baru. Gerakan kosmoplitan berawal di Yunani sekitar tahun 4 SM, dengan para tokoh kaum ‘Cynics’. Formulasi dari konsep kosmopolitanisme sendiri berawal dikarenakan skeptisisme kaum Cynics terhadap loyalitas manusia pada preferensi agama, ras, negara, etnis, suku, dll.  Konsep etika dari Appiah dapat dirumuskan menjadi dua hal, yang pertama adalah rekognisi bahwa hidup menjadi penduduk kosmos mendorong manusia untuk saling bertanggung jawab satu dengan lainnya, sedangkan yang kedua adalah kesadaran untuk mengapresiasi partikularitas manusia lainnya.

Pada esensinya seorang kosmopolit, adalah orang yang menerima keragaman, dan tidak memaksakan keseragaman pada orang lain. Garis bawahi yang dimengerti oleh Appiah sebagai apresiasi terhadap perbedaan, meskipun kita tidak sepaham dengan suatu komunitas yang berbeda pandangan, hendaknya ketidak pahaman tersebut dikomunikasikan sebagai suatu perbincangan para kosmopolit. Perbincangan kosmopolit tidak harus merujuk pada suatu hasil yang menyetujui sesuatu hal, yang terpenting bagi Appiah, adalah keyakinan bahwa meskipun berbeda pandangan manusia akan terus berbincang dan berdialog.

Sen juga berkomentar panjang mengenai ‘hard identity’, bahwa kekerasan yang berasal dari fanatisme identitas merupakan kekerasan yang berasal dari suatu ilusi. Ilusi bahwa identitas tersebut abadi, substansial dan universal. Keyakinan semacam inilah yang terus berbenturan dengan paham-paham liberal yang plural. Rasa superioritas dan hak untuk menghakimi yang datang dari alasan-alasan identitas beragama atau berideologi. “To be sure, the assumption of singularity is not only the staple nourishment of many theories of identity, it is also, as I discussed in the first chapter, a frequently used weapon of sectarian activists who want the targeted people to ignore altogether all other link ages that could moderate their loyalty to the specially marked herd.”(Sen, hlm. 21) Sen berusaha menunjukan bahwa kebiasaan memahami identitas sebagai sesuatu yang singular hanya semakin membuat indentitas tersebut mengeras dan tertutup.

Dalam bab ”The Shattered Mirror”, refleksi etis dari Appiah adalah mengenai pandangan kelompok-kelompok manusia terhadap dunia. Seorang yang anti-HAM, misalnya, akan mengatakan bahwa melalui justifikasi sejarah, teks suci, ras, ataupun asumsi-asumsi lainnya, –merasa bahwa kelompoknya adalah kelompok yang istimewa dibandingkan dengan manusia lainnya. Mereka hanya memiliki satu arah pandangan dan satu pencitraan tentang dunia. ”The deepest mistake, is to think that your little shard of mirror can reflect the whole (world).” (hlm. 8) Appiah menekankan bahwa kita tidak bisa memahami dunia hanya dengan melihat dari sudut pandang kita sendiri, untuk melihat dunia sebagai suatu kekayaan yang menyeluruh maka kita harus siap untuk menerima dan hidup dengan perbedaan.

Kultural Flux

Kwame Appiah juga memberikan statemen yang tegas mengenai kultur yang flux. Menurutnya untuk menjaga purifikasi suatu budaya adalah suatu yang ’oxymoron’ suatu ketidak mungkinan, ”Cultural purity is an oxymoron.”(hlm. 113) Para kaum puritan sering menganggap bahwa mereka yang hidup dengan pola kosmopolitan adalah orang-orang yang mengkontaminasi kemurnian budaya mereka. Appiah menolak pandangan semacam ini, dengan mengkritik, ”Whose culture is it, anyway?” Appiah mengkhususkan membahas falibilitas budaya. Bahwa kebudayaan manusia adalah campuran dari jumlah budaya yang indefinitif, yang sulit kita telusuri originalitasnya.

Kehadiran patung-patung itu sendiri, selain mereka perwujudan estetis dari kebudayaan Indonesia, patung-patung itu merupakan bukti langsung dari kebudayaan yang telah bercampur. Tradisi India yang diadaptasi menjadi tradisi Hindu Nusantara, yang kemudian bercampur lagi dengan kebudayaan Islam Nusantara. Maka alangkah konyolnya bila patung-patung itu dirobohkan, karena sesungguhnya mereka hanyalah wujud dinamisme budaya yang telah terjadi di Nusantara semenjak ratusan tahun yang lampau.

Selain itu falibilisme budaya memperbolehkan kita untuk terus mengkaji kembali kebudayaan kita. Dalam buku sebelumnya dengan judul, “The Ethics of Identity”, Appiah sudah menjelaskan secara mendalam tentang makna suatu identitas. Manusia sebagai penikmat dan pelaku suatu kebudayaan cenderung mengambil secara rigid apa maknanya memiliki suatu identitas. Bagi Appiah identitas-identitas ini bukan suatu hal yang baku, dan kedap akan perubahan. Para kaum tradisionalis merasa bahwa identitas mereka terancam, menurut Appiah sentimen semacam ini timbul karena mereka terjebak di dalam suatu ilusi tentang identitas. Seolah-olah identitas itu sesuatu yang tertanam secara ’metafisik’ di dalam diri kita.

Penutup

Malang betul nasib Semar di Purwakarta. Dituding sebagai momok yang menyebabkan kesesatan, dibenci, kemudian dijatuhkan. Padahal komunitas Islam radikal di Purwakarta harus menilik sejarah untuk menghargai Semar. Ia adalah hasil gagasan nenek moyang kita sendiri, yang sesungguhnya mewakili ajaran filosofis yang penting. Semar di dalam tokoh pewayangan dianggap sebagai seorang abdi, yang mengasuh keturunan Ksatriya. Dimana makna filosofisnya adalah Semar yang merupakan kaum rakyat biasa menjadi bidan atau suara nurani bagi para raja atau pemimpin. Bahwa harus ada kerjasama dan keharmonisan antara rakyat dan negara. Tentunya paham ini sama sekali tidak menyesatkan?

Daftar Pustaka

Sen, Amartya, Identity and Violence, WW Norton & Company, New York, 2006

Appiah, Kwame, Cosmopolitanism, WWNorton & Company, New York, 2006

Previous Next

2 Responses (+add yours?)

  1. Hendro
    Oct 25, 2011 @ 11:30:00

    kita sepertinya berada dalam ketakutan akan kehilangan identitas. Untuk itu banyak laku yang dibuat untuk menegaskan identitas. sayangnya, penegasan identitas yang sebenarnya perlu terjerumus dalam penegasan identitas yang kurang bijak, cederung naif. identitas “aku’ lebih dari identitas ‘kamu”, identitas “mereka”. agar “aku” bertahan maka yang “kamu’, “mereka” harus ditiadakan. ‘aku” yang bertahan dan hidup. inilah problem yang terjadi di indonesia kita. menghargai identitas menjadi penting dalam memelihara ” Indonesia kita”.

    Reply

  2. co-that
    Nov 21, 2011 @ 07:20:28

    Mereka hanya tidak mengerti, ujung2nya adalah kwalitas pemahaman dan pendidikan. ada baiknya energi kita focuskan pada hal lain, karena sekeras apapun response kita tidak akan mempan jika level pemahamannya jauh berbeda, dan hati tidak terbuka :)

    Reply

Leave a Reply